Home

Tuesday, July 23, 2013

Laporan yang Terlambat dari Seminar Parenting "Be Amazing Parent"




Telatnya ga kira-kira nih, udah hampir sebulan lebih soalnya buru2 selesaiin tesis yang genting waktunya, soal ujian tesis dan keriaan keriaan sesudah tesis bakal diposting next aja ya, sekarang fokus ke seminar parenting, yuk siapkan hati dan jantung hehe lebay…

Jadi orang tua memang tidak ada sekolahnya, dan dari masa ke masa pola pengasuhan ga bisa disamakan, maksudnya, masa kita dulu ga secanggih sekarang dimana informasi didapat dari mana saja. Kadang suka ngebayangin kalo masa kecil saya kayaknya ga serumit anak sekarang yah..kekhawatiran akan pergaulan bebas, narkoba, dll kayaknya dulu nggak separah sekarang.

Makanya untuk jadi orang tua di jaman sekarang, kayaknya ga cukup buat mengadopsi pola pengasuhan orang tua kita dulu. Kita juga perlu memperkaya diri dengan pengetahuan parenting yang sekarang bisa didapat lewat seminar, buku, internet.

Disini saya nggak menggurui soal parenting ya, saya Cuma menyampaikan apa yang saya dapet di seminar parenting bertajuk “Be Amazing Parents” yang dselenggarakan AIMI jateng di Hotel Gumaya hari Minggu, 30 Juni 2013.

Pengisi dari seminar ini adalah Bunda Rani Razaq Noe’man sebagai pembicara. Pendiri Komunitas Cinta Keluarga dan Penulis Buku Amazing Parenting ini mengupas peran orangtua dalam membangun percaya diri anak. Namun ternyata isinya tidak hanya itu, beliau juga mengulas mengenai fenomena anak sekarang yang sudah banyak terkontaminasi dengan gadget-gadget yang ada dan tayangan-tayangan berbau pornografi dan kekerasan yang tentu saja tidak layak untuk dikonsumsi anak-anak kita.

Dalam seminar itu bunda Rani menyampaikan diantaranya tentang pengenalan gadget pada anak-anak. Saat itu ditanya sama peserta” Siapa yang memberikan gadget buat anaknya?” dan hampir semua tunjuk tangan hihihi….

Sebenernya, berapa sih usia yang pas buat ngasih gadget ke anak? Menurut beliau, yang berdasar penelitian tentunya, saat yang pas buat memberikan gadget untuk anak adalah umur 6 tahun kwak kwaaaaww….Hafizh berapa dong, baru 3 tahun hihihi (tutup muka)

Alasannya mungkin hampir seragam: untuk mengenalkan teknologi pada anak, buat anak biar kreatif, melatih daya imajinasi anak, biar anak anteng dang a rewel, dan lain-lain.

Kenapa baru boleh diberikan sebaiknya umur 6  tahun? Karena di usia tersebut anak sudah bisa membedakan mana yang nyata dan yang tidak nyata. Di usia di bawah 6 tahun, syaraf-syaraf otak anak masih belum bersambungan, jadi belum siap menerima hal yang berbau kognitif. Akibatnya ya mereka kadang ga bisa bedain mana yang nyata mana yang khayal, efeknya anak jadi pemarah, pembangkang dsb.
Padahal di usia itu sebaiknya orang tua justru mengajarkan bagaimana mengelola emosi, pendidikan karakter lah ya istilahnya.

Itu dari gadget yaa…belum lagi dari tayangan TV, sinteron dan film yang acak adut ga jelas apa pesan moralnya. Misalnya (saat itu) ditayangin sinetron dan film yang isinya pergaulan bebas, KDRT, peredaran narkoba, bullying…dan produser selalu berkilah: bahwa inilah yang terjadi di masyarakat, buat pembelajaran…tapiii ini bisa aja kan ditonton anak, banyak ortu/ART yang suka liat sinetron dengan disambi nyuapin anaknya, pokoknya si anak ikut lihat. 

Tayangan2 ini akan membekas di otak anak loh..kesannya serem amat ya, tapi beneran…karena otak anak masih berproses, jadi bayangkan tayangan-tayangan kekerasan itu ikut berproses dalam perkembangan otak anak.

Belum lagi pengaruh socmed saat ini, semua bisa akses. Juga pengaruh pemberian handphone pada anak. Di sini bunda rani menunjukkan SMS dari anak SD yang sekilas seperti bahasa alay, namun setelah cara membacanya dengan dibalik, bisa terlihat mereka SMS yang selayaknya diucapkan orang dewasa, ngeri kan? Mereka melakukan berbagai cara supaya ga ketahuan orang tua. 

Trus, ada lagi kan ortu yang suka ajak anaknya yang masih balita atau usia SD awal-awal nonton di bioskop dengan dalih filmya film super hero…superhero sih iya, tapi tetep kaan ada adegan kissing, kekerasan dll
Ada satu game yang ditunjukin bunda Rani, game ini sekilas sih game race (balap) biasa, tapi setelah diamati…diihhh bikin merinding. 

Ternyata untuk dapat mengikuti balapan, si tokoh (yang dmainkan di game) harus mencuri mobil terlebih dahulu dengan merampas dan menembak pemilik mobil. Setelah memenangkan balapan, si tokoh ini dihibur tari-tarian oleh PSK…bayangin kalo anak kita main game itu. Miris kannn? 

Di Negara asalnya, game ini buat umur 20an ke atas, tapi siapa bisa menjamin, apalagi di sini game dijual bebas di mol. Jadi kalo beliin anak CD game sebaiknya ikut liat…atau ga ngegame sekalian? Hihhi
Jadi bijaklah dalam memberikan gadget/alat komunikasi dan tontonan sesuai dengan usia anak, pertimbangkan masak-masak, awasi penggunaannya. Ga boleh kalah pinter sama anak ya? *jleb jleb*

Ganti ke sub topik lain, namun masih berkaitan. Buat yang punya anak usia sekolah, biasanya emak-emak suka meledak-ledak emosinya, soal males mandi lah, males belajar, ga mau bersih-bersih, nonton TV mulu dll. Ortu cenderung suka:

·         Menghardik: kamu kok ga belajar sih? (dengan nada tinggi)
·         Membandingkan: coba liat tuh anak pak anu, dia pinter ga kaya kamu
·         Menghakimi: makanya jadi anak jangan males gitu dong
·         Mengancam: awas ya kalo kamu nilainya jelek, mama hukum
·         Menceramahi: kalo habis mainan tuh dirapiin, udah gede ga ngerti juga (ngomel)
·         Menginterogasi: knapa nilainya jelek? Ga belajar ya? Di sekolah merhatiin guru enggak sih?

Naah, gaya “tradisional” dalam mengasuh anak ini yang cenderung mengikis rasa percaya diri anak. Nak cenderung merasa terpojok, tidak bisa mengungkapkan perasaan, dan akhirnya komunikasi yang baik tidak terbentuk

Padahal di masa anak-anak ini (terlebih di era globalisasi) peran orang tua yang bisa diajak komunikasi sangatlah penting, anak yang memiliki masalah jika terus menerus dihakimi dan tidak didengarkan (komunikasi satu arah) akan mencari jwaban di luar sana yang belum tentu benar. 

Orang tua sebaiknya lebih mengedepankan thinking skill, maksudnya adalah anak juga diberi kesempatan untuk mebuat pilihan-pilihannya sendiri selama itu positif. Kita tinggal mengawasi dan meberikan bimbingan. Sudah ga jaman orang tua otoriter sekarang ini.

Pengalaman masa kanak-kanak ini akan membentuk pribadi anak kelak. Pengalaman baik dari orang tua dan lingkungan (tontonan yang baik, pergaulan yang baik) akan membuat sambungan di otak mereka menjadi bagus.

Sebaliknya jika mereka mengalami pengalaman yang tidak baik, misalnya komunikasi yang kurang baik dengan orang tua, tidak nyaman di rumah karena selalu disalahkan, juga pengaruh gadget dan tontonan yang tidak baik (kekerasan, sex dll) maka sambungan di otak juga akan terganggu. 

Jadi orang tua memang nggak mudah, butuh usaha dan tentu saja tanggung jawab yang besar. Buka jalan untuk masa depan anak seperti memberikan alternative hobi yang bermanfaat, hargai keunikan. anak, jaga mulut buat ga ngomel mulu (hihihi), biarkan anak mencoba pilihannya (yang positif), bantu mereka menyusun rencana, dan yakinlah kalau anak kita hebat.

Kuasai parenting skill dan terus belajar. “Tidak ada orang tua yang sempurna, yang ada mencintai anak dengan sempurna” Quote dari Bunda Rani.

Demikian kurang lebih apa yang saya inget dari seminar ini, kalo ada yang kelupaan yaa maap maap aja ya, ingatan saya kan terbatas, apalagi udah sebulan hihihi. Semoga bermanfaat, dan semoga saya juga bisa menerapkannya :) 

4 komentar:

Icha said...

Jleb jleb banget ini seminarnya yah. *ditabok bolak balik*...;-)

Uniek Kaswarganti said...

makasih share ilmunya mba... iya nih, jadi ortu gak ada sekolahnya sih ya, so tak ada parameter keberhasilan jadi ortu :)

ortu adalah murid seumur hidup dari anaknya, tak akan pernah lekang cinta ortu utk terus belajar dari kecerdasan dan kelincahan putra putrinya

Lidya - Mama Cal-Vin said...

sekolahnya orang tua itu dimanapun, tiap saat

sari said...

icha: banget bun hehe

mb uniek: sama-sama mbak..iya kita harus update terus hehe

mb lidya: bener banget mbak!

There was an error in this gadget

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails

Our Beloved Hafizh