Pages

Saturday, March 29, 2014

Pilihan Ibu yang Terbaik

Benarkah pilihan ibu selalu yang terbaik?

Coba lihat kejadian-kejadian di bawah ini:

1. Anak mau pake kaos kartun, ibu bilang: jangan pake kemeja aja...

2. Anak mau pake sendal biru ibu bilang; jangan biru ga matching...merah aja kayak bajunya

3. Anak mau mewarnai rumah dengan warna hitam, ibu bilang: warnanya yang cerah doong biar bagus.

Emang turun berapa kilo gengsi si ibu kalo ngeliat ga matchingnya baju si anak dibandingkan dengan daya kreatifitas si anak yang sedang dalam tahapan ingin mencoba segala sesuatu berdasarkan pilihannya sendiri?


Hhhm pusing ga sih jd anaknya, ga boleh milih. Itu baru sekarang, dia masi kecil, manut-manut aja. 
Tunggu sampe besok gede misalnya anak milih jadi arkeolog instead of dokter, banker, PNS. Pekerjaan apapula arkeolog? Duuuh mau jadi apa nanti? Bisa ngasilin duit ga kalo ntar lulus dari situ :)))


Hhhm...sayaa sebagai ortu nantinya juga masih mikir sih, ntar kalo anak saya masuk ke jurusan itu mau jadi apa dia hihihi *getok*

Pengennya sebisa mungkin menghargai pilihan anak, kita cukup mengarahkan saja, mudah-mudahan bidang yang dia pilih yang memang sesuai dengan minatnya bisa membuatnya maksimal dalam menjalankannya..

Makanya mumpung anak-anak masih kecil, berusaha memahami pilihan-pilihan mereka akan sesuatu yang menjadi minatnya, yang positif tentunya. Asal bukan pilihan yang membawa dia ke pengaruh negatif pastinya. Hormati pilihan anak mulai dari hal-hal kecil. Biarkan mereka memilih baju yang dia mau, kita mengarahkan saja kalau misalnya acara resmi tapi dia memilih baju santai. Kita ajak memilih baju resmi dengan beberapa pilihan yang diserahkan ke anak sendiri.


Soal warna-mewarnai, saya lebih suka membiarkan anak mewarnai apapun yang dia ingin warnai. Ga pernah rasanya saya mengarahkan daun harus hijau, cat rumah harus warna ini, awan harus itu. Toh dia pasti punya alasan kenapa dia mewarnai langit dengan warna merah misalnya. Heii,...langit merah memang ada kan,saat matahari merekah di pagi hari, atau daun yang warna marun, ada kok.

Pasti dia bahagia jika pilihannya kita hargai apalagi kita beri pujian. Dia juga akan belajar menentukan sendiri dan tentu saja akan lebih percaya diri dalam menentukan apa yang dia mau, bukan jadi anak yang takut mengambil keputusan, takut salah, takut dikritik. Duuh...PR banget juga nih, terutama yang bagian baju..pengennya kita ngritik gitu. *kunci mulut emaknya rapet2 biar ga protes*

Belajar, belajar dan terus belajar dalam hal mendidik anak.

Tuesday, March 25, 2014

Let's Make Ourselves Happy and Grateful!

Saat lagi menghadapi sesuatu hal yang ga mengenakkan atau mengecewakan, apa sih yang kamu lakukan agar tetap tegak berdiri, terus melangkah dan optimis? Berat memang jika kita tahu bahwa permasalahan yang sedang kita hadapi ini seakan-akan belum menemukan titik terang.

Gimana mau terus berjalan, sekedar tegak berdiri saja susah. Dengan berpikir bahwa, okelah semua orang pasti punya masalah, semua orang di dunia. Bahkan jika dirunut lebih jauh, mungkin masalah yang kita hadapi ga ada seujung kuku masalah orang lain yang lebih berat. Iya tau. Masalahnya ketahanan orang dalam menghadapi masalah pastilah berbeda-beda. Bukan maksudnya membela diri, tapi setidaknya kalau kita kecewa pasti pernah deh merasa oranng yang paling ga beruntung, walaupun itu cuma sesaat. Karena sesaat kemudian kita tersadar, kita masih punya yang Maha Pemberi Kehidupan, Allah. Bahwa semua yang terjadi ini ga akan lepas dari kehendaknya.

So, jalani saja. 

Selain berdoa, sholat (tentu saja), ada hal-hal sederhana lain yang membuat kita agak bisa tersenyum, atau paling enggak, keslimur (teralihkan) jadi masalah juga terasa ringan saja dijalani. Apa coba? Jalan-jalan? Bolehlah...tapi kalau masalahnya berkaitan dengan susah duit, dengan jalan-jalan kayaknya justru memperparah masalah deh hihihi. Kecuali kalau tahan cuma beneran jalan-jalan aja dan rela mata ini sekedar menatap nanar barang-barang yang ga pengen kita beli dulu (karena bokek)

Blogging. Yes, ngeblog juga jadi salah satu sarana menciptakan kebahagiaan sederhana. Blogwalking, liat-liat dan baca artikel yang keren-keren. Atau kepoin instagram artis (Syahrince, uhuk!) lumayan bikin senyum-senyum sirik. 

Dulu, jaman masih kuliah, kebahagiaan sederhana saya adalah dengan nonton Meteor Garden dan segala hal yang berhubungan dengan personel F4, haha cetek yaah...pusing skripsi pasti refresingnya ya VCD meteor garden dan tayangan-tayangan F4, atau sekedar lari ke warnet sejam dua jam buat melototin forum-forum yang ngebahas F4, nyimpenin foto-foto terbaru F4, terutama Ken Zhu buat dimasukin di disket (ya saya setua itu) buat dipindah ke kompi rumah. Trus kalo kangen diliat-liat deh...#eaaaaa lebay banget deh ah..

Buku.
Ya, buku juga salah satu self remedy dikala boring adalah ke toko buku buat cari-cari buku yang asyik atau kalo lagi bokek ya ke perpus wilayah (Perpusda), pinjem buku di sana, grateeess. 

Last but not least, karena sekarang sudah jadi emak-emak, ya senyum si kecil dan ketawanya yang kadang menghilangkan segala beban, dan suami gendut kayak panda yang senantiasa siap dengan ajakan makan di luar yang pantang ditolak (hobi jajan). Atau sekedar gegoleran bertiga di depan TV, poto2an narsis di tablet bertiga, atau masak-masakan di dapur.

Yah, banyak hal sekeliling kita yang bisa membuat kita bahagia. Sedih dalam satu hal, pastilah ada kebahagiaan yang lain yang bisa kita ciptakan. Selalu berusaha bersyukur dalam keadaan apapun.


Tuesday, March 11, 2014

Phobia Terbang

Sebelum menulis lebih lanjut, saya berdoa semoga misteri hilangnya pesawat Malaysia Airlines (MH 370) yang lenyap di atas Perairan Vietnam segera terungkap. Semoga semua awak pesawat dan penumpang selamat. Kalopun terjadi skenario terburuk, semoga keluarga diberikan keikhlasan dan ketabahan menerimanya. Aamiin.

Oke, bicara soal terbang dengan pesawat saya termasuk yang sebenarnya phobia naik pesawat. Tapi tarafnya nggak sampai yang harus menghindari sama sekali. Jikalau memang terpaksa ya saya naik saja.

Tapi di pesawat, saya cenderung ngga bisa tenang, agak gelisah gitu. Apalagi kalau pesawat pas melintasi lautan. Saya ngebayangin yang nggak-nggak. Sambil terus berdoa tentunya.

Kemarin yang terakhir pas ke Surabaya yang biasanya hanya menempuh waktu 45 menit karena cuaca buruk dan Bandara Juanda dalam kondisi minimal jadi agak lama di atas. Grasak grusuk melulu kena awan. Duuuh rasanya kaki udh lemes. Mana saya duduk sendiri. Si ayah sama Hafizh duduk di seat yang beda (karena pas pesen buat Hafizh belakangan ga bareng).

Sempet kepikiran tar kalo pesawat ini kenapa-kenapa saya terpisah sama mereka. Bolak-balik saya nengok ke bangku mereka dan Hafizh malah sibuk becanda sama si Ayah.

Akhirnya perjalanan yang sebenarnya singkat terasa lama dan menegangkan. Ketika roda pesawat mulai terasa menyentuh landasan saya lega luar biasa. Ibu-ibu sebelah saya spontan mencium anak perempuannya dan kalo ga salah mengucap syukur. Anaknya berkata: akhirnya sampe ya Mah...

Ternyata ketegangan ga cuma terjadi pada saya yang default-nya memang takut naik pesawat, tapi juga buat orang lain. Eh jangan2 si ibu dan anak ini phobia juga kayak saya hehe.

Waktu itu kenapa saya ga duduk di sebelah Hafizh dan si ayah yang sendiri. Karena saya penakut itu tadi. Takutnya saya yang sibuk dengan ketakutan saya jd makin stress kalo Hafizh misalkan rewel.

Kata temen saya sih lebih aman naik pesawat daripada bis. Yaa smua kan dari Allah termasuk kapan dan di mana kita akan dijemput. Tapi kalau menurut saya, mending naik bis, karena kalo ada apa-apa paling tidak jasad saya masih ditemukan, dibanding dengan misalnya kecelakaan pesawat yang jatuh di laut. (Oke ini analisa oleh orang penakut kayak saya)

Tapi, kalau memang terpaksa harus naik pesawat yaa gpp, berdoa kenceng di atas. Ga kebayang kalo misal suatu saat nanti saya menempuh perjalanan yang jauh ke luar negeri (ke Mekah misalnya, aamiin). Smoga nanti bisa lebih tenang menghadapinya. Tapi memang ya, tiap naik pesawat saya selalu ga bisa santai, walau tujuannya mau liburan tetap aja kepikiran "kalau-kalau". 


Jadi inget pemain sepakbola Dennis Bergkamp yang phobia terbang, atau personel the A-Team (BA) yang harus di"pingsan"kan dulu sebelum naik pesawat terbang.


Sunday, March 9, 2014

Cafe/Booth TongTji

Booth minuman teh bisa dibilang menjamur di mana-mana beberapa tahun belakangan ini. Ada yang di mall, supermarket, dan tempat publik lain seperti kampus, rumah sakit, dll.

Booth ini kalau kita lihat ada banyak brand dengan kelebihan masing-masing (varian, pelengkap dll). Tapi sepanjang yang saya tahu yang pertama kali buka booth teh gini adalah Tongtji, ya ga sih?




source picture from here

Padahal ada brand teh yang lebih kondang seperti sosro atau sari wangi, tapi Tongji lah yang mempelopori booth teh di mall-mall.

Dulu kalo ke mall, pas haus ya kita harus ke resto, atau mampir ke supermarket. Sekarang tinggal mampir ke booth teh deh. Dengan harga teh yang standar, haus ilang, minum bisa sambil jalan-jalan. Eh tapi ini jangan ditiru ya, ga baik :)

Sekarang walaupun sudah banyak brand yang bikin booth di mall (termasuk brand minuman teh impor macem chatime, teapresso dll), tetep aja booth Tongtji jadi favorit.

Selain itu, kini Tongtji juga bikin kafe, yang mana selain menyediakan minuman aneka teh, juga menyediakan snack-snack alias cemilan macam roti bakar, kentang goreng, tahu bakso, dll (tahu baksonya fav aku banget).





Ga cuma snack, menu berat kaya nasi goreng juga ada


Kalau beli di cafe-nya (ga take away) milk teanya pake gelas lucu seperti ini :)


Bahkan di beberapa kafe tertentu mereka juga menyediakan menu berat seperti mie goreng, nasi goreng, tahu telur, rawon, bakmoy dll. Seru ya? Harganya? Ga terlalu mahal.

Favorit aku milktea. Tadinya ga suka, aneh gt rasanya, tapi ga tau kenapa lama-lama malah suka. Harganya ga terlalu mahal (dibanding teh2 import yang harganya paling murah 25rban per gelasnya). Ya iyalah. Import gitu hehe.


Asik nongkrong di sini, tempatnya enak dan makanan+minumannya murah juga. Dan sekarang nampaknya mulai muncul para follower (merk teh lokal yang bikin ala-ala Tongtji cafe begini)

Moral story: usaha ga harus yang muluk-muluk ide, kadang dari ide sederhana (hanya minuman teh) bisa jadi bisnis yang luar biasa. Note to myself.

Thursday, March 6, 2014

Kebobolan Maling (lagi)

Subhanallah, Innalilahi wainailaihi rojiuun....

Rabu kemarin shock dapet kabar dari si ayah yang kebetulan pulang gasik/awal ke rumah dan menemukan rumah sudah diacak-acak maling. Si ayah telpon...dan sempet nge-blank waktu diberitahu soal ini.

Ngeblank karena kaya ga percaya, masa sih kemasukan (lagi)? Padahal belum ada setahun kemarin rumah kita kemasukan maling (menjelang puasa 2013). Ga percaya rasanya, kok bisa siih.

Kali ini maling ga menggondol apapun, kalo kemalingan yang pertama si maling berhasil menggondol TV plus mengacak-acak seisi rumah. Karena memang saya ga hobi nyimpen-nyimpen apapun yang berharga di rumah, jadi ya si maling ga dapet apa-apa selain TV. Eh, sebenernya dapet sekotak aksesoris, tapi aksesoris jilbab biasa, bukan yang berharga gitu.

Rasanya sebel, marah, takut, lemes, dan entah apa lagi, walau sedikit lega karena ga ada barang elektronik yang diangkut. Ga habis pikir, kunci udah dobel, diperketat sejak kemalingan yang pertama, eh ini kok kemalingan lagi. Hiks. Harta bisa dicari, , memang. Tapi yang dikahwatirkan kami adalah kalo ada orang-orang jahat ini yang nekat ketika saya dan Hafizh di rumah sendirian misalnya. Duuuhhh....

Kayaknya usulan segera mempekerjakan seorang keamanan harus segera direalisasikan. Udah ah semoga ini yang terakhir. Capek eeuyyy rasanya mikirn. Sekarang kunci sudah diperketat, semoga ga kejadian lagi.

Semoga Allah senantiasa melindungi dari segala kejahatan dan marabahaya.

Oiya, paling ga seneng ada yang koment "wah kurang sedekah tuh..." pengen gampar deh...emang dia sekretarisnya Alloh, emang kalo sedekah kita laporan sama dia. Menyakitkan deh perkataan kaya gitu. Mending diem aja sono!

Sabar...semua datangnya dari Allah....

Oiya, semoga yang maling ga bisa kentut setahun hihihi *esmoni*