Home

Tuesday, March 11, 2014

Phobia Terbang

Sebelum menulis lebih lanjut, saya berdoa semoga misteri hilangnya pesawat Malaysia Airlines (MH 370) yang lenyap di atas Perairan Vietnam segera terungkap. Semoga semua awak pesawat dan penumpang selamat. Kalopun terjadi skenario terburuk, semoga keluarga diberikan keikhlasan dan ketabahan menerimanya. Aamiin.

Oke, bicara soal terbang dengan pesawat saya termasuk yang sebenarnya phobia naik pesawat. Tapi tarafnya nggak sampai yang harus menghindari sama sekali. Jikalau memang terpaksa ya saya naik saja.

Tapi di pesawat, saya cenderung ngga bisa tenang, agak gelisah gitu. Apalagi kalau pesawat pas melintasi lautan. Saya ngebayangin yang nggak-nggak. Sambil terus berdoa tentunya.

Kemarin yang terakhir pas ke Surabaya yang biasanya hanya menempuh waktu 45 menit karena cuaca buruk dan Bandara Juanda dalam kondisi minimal jadi agak lama di atas. Grasak grusuk melulu kena awan. Duuuh rasanya kaki udh lemes. Mana saya duduk sendiri. Si ayah sama Hafizh duduk di seat yang beda (karena pas pesen buat Hafizh belakangan ga bareng).

Sempet kepikiran tar kalo pesawat ini kenapa-kenapa saya terpisah sama mereka. Bolak-balik saya nengok ke bangku mereka dan Hafizh malah sibuk becanda sama si Ayah.

Akhirnya perjalanan yang sebenarnya singkat terasa lama dan menegangkan. Ketika roda pesawat mulai terasa menyentuh landasan saya lega luar biasa. Ibu-ibu sebelah saya spontan mencium anak perempuannya dan kalo ga salah mengucap syukur. Anaknya berkata: akhirnya sampe ya Mah...

Ternyata ketegangan ga cuma terjadi pada saya yang default-nya memang takut naik pesawat, tapi juga buat orang lain. Eh jangan2 si ibu dan anak ini phobia juga kayak saya hehe.

Waktu itu kenapa saya ga duduk di sebelah Hafizh dan si ayah yang sendiri. Karena saya penakut itu tadi. Takutnya saya yang sibuk dengan ketakutan saya jd makin stress kalo Hafizh misalkan rewel.

Kata temen saya sih lebih aman naik pesawat daripada bis. Yaa smua kan dari Allah termasuk kapan dan di mana kita akan dijemput. Tapi kalau menurut saya, mending naik bis, karena kalo ada apa-apa paling tidak jasad saya masih ditemukan, dibanding dengan misalnya kecelakaan pesawat yang jatuh di laut. (Oke ini analisa oleh orang penakut kayak saya)

Tapi, kalau memang terpaksa harus naik pesawat yaa gpp, berdoa kenceng di atas. Ga kebayang kalo misal suatu saat nanti saya menempuh perjalanan yang jauh ke luar negeri (ke Mekah misalnya, aamiin). Smoga nanti bisa lebih tenang menghadapinya. Tapi memang ya, tiap naik pesawat saya selalu ga bisa santai, walau tujuannya mau liburan tetap aja kepikiran "kalau-kalau". 


Jadi inget pemain sepakbola Dennis Bergkamp yang phobia terbang, atau personel the A-Team (BA) yang harus di"pingsan"kan dulu sebelum naik pesawat terbang.


4 komentar:

dian sigit solichedi said...

aku paling takut kalo turbulence T_T skr mesti dikuat2in krn harus tampak kuat di depan anak

Lidya - Mama Cal-Vin said...

biasanya rasa takut ada tapi ya haru sberani ya mbak

Idah Ceris said...

Tambah was-was karena cuaca sdg buruk ya, Mba.
Pegangannya sereeet bgttt. Ahahaha

sari said...

dian: iya mb...kudu tetep lempeng ya hehe

mb lidya: diberani-beraniin mbak :)

mb idah: iya. makin grogi hehe...

There was an error in this gadget

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails

Our Beloved Hafizh