Pages

Tuesday, April 29, 2014

Wisata Kampoeng Rawa, Rawa Pening, Ambarawa


Siapa yang tahu legenda Baru Klinting? Pasti pernah denger kan? Legenda ini ada hubungannya dengan Rawa Pening di Ambarawa. Legenda mengenai anak bernama Baru Klinting yang diejek orang sekampung karena buruk rupa dan kudisan, kemudian dia menancapkan lidi ke tanah dan menantang orang-orang kampung untuk mencabut lidi, ternyata tidak ada yang dapat melakukannya. Alhasil dia sendiri yang mencabut lidi itu dan muncratlah air dari dalam tanah tempat lidi ditancapkan. Air yang berlimpah sampai menenggelamkan seisi kampung. Konon, kini Baru Klinting berubah wujud menjadi ular raksasa yang mendiami Rawa Pening.

Yak itu sekilas legenda yang pernah saya dengar waktu kecil dulu. Waktu saya sekeluarga dan si kecil yang masih balita berkunjung ke Kampoeng Kopi Banaran, dari atas (waktu keliling kebun kopi) melihat keindahan Rawa Pening dan pengen banget ke sini. Dan kebetulan, di kawasan Rawa Pening kini sudah ada pihak pengelola yang membuat tempat ini kian nyaman dikunjungi. Tempat ini bernama Kampoeng Rawa, Ambarawa.

Tempat wisata ini berlokasi di pinggir jalur lingkar Ambarawa yang menghubungkan Bawen - Ngampin sehingga mudah dijangkau dari jalan tol. Alamat tepatnya ada di Desa Bejalen, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang. Kampoeng Rawa adalah obyek wisata yang dikelola oleh 12 kelompok tani dan nelayan di Desa Bejalen dan Kelurahan Tambakboyo, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang. Mereka bersatu membentuk Paguyuban Kampoeng Rawa pada tanggal 4 Agustus 2012. Tujuannya adalah mensejahterakan kehidupan petani dan nelayan.

Sewaktu kunjungan pertama ke sini jalan tol yang menghubungkan Semarang-Bawen belum beroperasi, namun kunjungan kedua pada tanggal 9 April lalu (yess, habis nyoblos baru piknik hehe) jalan tol sudah beroperasi, baru saja diresmikan Presiden SBY, masih gratis pula. Jarak tempuh dengan melewati jalan tol baru ini hanya sekitar 30 menit dr Semarang, asik kan?

Begitu memasuki kawasan wisata ini kita akan disuguhi pemandangan yang menyejukkan mata, sawah yang menghampar kehijauan, dikelilingi gunung yang menjulang dan dari pintu gerbang terlihat sekilas Rawa Pening. Tak lupa udara yang bersih dan segar.


Masuk ke kawasan ini tidak dipungut biaya, paling hanya biaya parkir saja. Parkirnya cukup luas, namun jika hari libur bisa membludak hingga ke luar gerbang. Meskipun tidak ada biaya masuk kawasan wisata namun untuk mencoba permainan dan aneka wahana kita harus menyiapkan dana sekitar mulai dari Rp 10.000,00 tiap permainan. Jika ingin mendapatkan tiket terusan bisa dengan membeli tiket terusan seharga Rp 90.000,00-Rp 100.000,00 tiap orang.

Apa saja wahana yang ada di sini? Lumayan banyak. Ada ATV, becak air, naik delman keliling kawasan, trampoline, bebek air, skuter anak, becak mini, sepeda yang dikayuh berempat (apa ya namanya), flying fox, dan tak lupa yang paling seru adalah wisata perahu mengelilingi Rawa Pening.



Aneka wahana permainan di Kampoeng Rawa

Khusus untuk wisata perahu dipungut biaya Rp 100.000,00 per kapal, jadi bisa rombongan. Kalau misalnya rombongan kita ga ada 10 orang biasanya digabungkan dengan rombongan lain, dan per orang dipungut biaya Rp 10.000,00 per orang. Biaya itu cukup murah mengingat durasi keliling Rawa Pening ini lumayan lama dan jauh, sampai ngantuk kalo saya hehe. Namun sayangnya pelampung sekedar hiasan saja, sudah banyak yang ga layak pakai. Bisa jadi masukan buat pengelola nih.







Berkeliling rawa dengan perahu wisata

Pemandangan di sekitar Rawa ini sungguh menakjubkan, ketika mengelilingi rawa kita disuguhu jajaran pegunungan yang mengelilingi rawa. Asik banget. Walau sempet was-was kebayang ular besar legenda Baru Klinting yang tiba-tiba muncul dari air. Ngayal.com hehe.

Capek bermain di berbagai wahana kita bisa menikmati aneka kuliner di kawasan ini. Kawasan restoran terbagi menjadi 2. Resto apung di sisi kanan pintu masuk dan pondok-pondok pemancingan di sisi kiri pintu masuk. Jika minggu atau hari libur biasanya kita harus berjuang memperebutkan tempat makan hehe. Yang unik di resto apung adalah kita akan menaiki ‘getek’ alias rakit untuk menuju ke sana. Deket sih, maksudnya ga sejauh mengelilingi Rawa Pening, bisa kelaperan nanti hehe. Oiya, khusus untuk di resto sebelah kiri terdapat arena pemancingan.



Arena pemancingan

Untuk menunya sebenarnya sama saja, ikan-ikan bakar, aneka seafood, dan sayuran. Standar menu kuliner di daerah pegunungan. Selain kedua resto itu, ada banyak penjual kaki lima yang menjajakan aneka makanan dan oleh-oleh. Pokoknya ga khawatir kelaperan di sana.

Overall tempat ini cukup menyenangkan dan menghibur untuk anak-anak maupun dewasa. Fasilitas pendukung seperti toilet dan musholla juga tersedia. Sayangnya mushollanya terlalu kecil. Konon tempat ini juga sering digunakan untuk sarasehan atau acara pernikahan.

Oiya, spot yang paling menarik menurut saya adalah wisata keliling rawa, pengalaman tak terlupakan. Silakan datang ke Kampoeng Rawa Ambarawa untuk menikmati sensasi berkeliling rawa yang luas



Saturday, April 26, 2014

Bermain bersama Si Kecil #1: Buat Sendiri Kotamu

Seperti halnya anak-anak lain, Hafizh (4yo) suka bosen ketika di rumah dan kebetulan sekolah libur. Sekolah PAUD tempat Hafizh bersekolah hanya masuk pada hari Senin-Rabu-Kamis, itupun hanya 1 jam. Jadi bisa dibayangkan dong banyak waktu luang dia di rumah.
Kadang suka bosan hanya bermain itu-itu saja, baliknya lagi-lagi ke TV (nonton Disney jr) atau main gadget. Walau tak jarang saya beri dia buku gambar/menempel atau buku mewarnai, kadang dia juga minta dibacakan buku cerita.

Karena kebetulan saya mengajar ga full time seminggu (hanya 3 hari dalam sepekan) maka punya banyak waktu bermain bersama dia. Kadang bingung juga memilih mainan apa, aktivitas di luar hanya dilakukan jika sore menjelang (main bola, sepeda, dll).

Akhir-akhir ini frekuensi dia main gadget kayaknya kelebihan, akibatnya dia suka marah-marah, rewel kalau diingatkan makan/mandi. Akhirnya saya coba lihat-lihat aktivitas anak di salah satu fanpage dari luar negeri saya mendapatkan link ini: http://kidsactivitiesblog.com/48656/car-activities-for-kids.

Di link yang saya tulis tadi ada berbagai macam aktivitas menggunakan mobil mainan yang pastinya anak balita laki-laki punya, anak perempuan juga mungkin. Daripada teronggok karena sudah bosan dan tidak menarik, kenapa nggak kita manfaatin lagi saja, tentu saja dengan sentuhan-sentuhan baru yang membuat anak tertarik. Ada banyak cara, salah satunya adalah dengan membuat jalan raya lengkap dengan rambu-rambu lalu lintas.

Kalau di situs itu menggunakan karpet, saya menggunakan kertas karton dan asturo saja. 

Berikut bahan-bahannya:

Kertas karton putih 1 lembar besar
Kertas asturo hitam (untuk jalan raya)
Kertas warna-warni (untuk membuat lampu lalin dll)
Glitter, lem, gunting, mainan-mainan yang sudah ada seperti mobil-mobilan kecil, balok warna-warni, robot-robotan dll.

Note: Saya menghabiskan kurang lebih Rp 7.000,00 saja (Cuma beli kertas, lem, dan glitter, yang lain mainan yang sudah ada)

Cara: Kertas karton dipakai seluruhnya (makin besar makin asik), tempel dengan kertas asturo hitam sebagai jalan dan diberi aksen marka jalan warna putih. Intinya dikreasikan sesuai bahan yang ada.

Letakkan aneka kotak yang disusun (bisa menggunakan kotak bekas, ngga harus mainan balok), buat kolam renang (kertas ditaburi dengan glitter biru).
Mommies pasti bisa berkreasi sendiri dengan mainan-mainan yang sudah ada. Kebetulan Hafizh masih punya aksesoris kereta yang masih ada seperti pohon, rel, bisa dipakai kan? Atau kalau ga ada, bisa lho beli aksesoris kue ultah di Toko Bahan Kue, lengkap banget kan itu (pohon, kartun, dll).

Nah, selamat bermain. Buat sendiri kota menurut imajinasi si kecil. Bisa dibangun sekolah, rumah sakit, supermarket, dan lain-lain. Hafizh jadi semangat, dia ga berhenti berbicara ketika memainkan mobil-mobilnya melewati bangunan-bangunan yang dibuat. Banyak manfaat yang didapat, seperti mengajarkan aneka tempat umum, rambu lalu lintas, mengenalkan arah kanan dan kiri, dan masih banyak lagi, dan yang pasti, seru bangetttttt!


Mainan pohon kelapa dari hiasan kereta-keretaan yang sekarang entah kemana hehe. Lampu lalu lintasnya bikin dari karton dan kertas warna warni. 


Terowongan dari balok-balok warna-warni yang sudah lama nggak disentuh :)


Asik banget mainnya, mengatur sendiri kota sesuai keinginan :) 


Segala ditempel/ditaruh, dari robot sampai mainan Patrick...katanya robotnya ngatur lalu lintas dan menjaga keamanan :)


Oiya, Hafizh sejenak lupa dengan gadget-nya, saya makin semangat buat cari aktivitas bermain yang lain nih....

Tuesday, April 22, 2014

Ketika Menilai Seseorang Hanya dari “Status” Facebook.


Disclaimer: Postingan ini mungkin agak bernada bête tak berkesudahan sekaligus geli, miris, prihatin hihihi

Siapa sih yang ga pernah nyetatus di FB, pasti semua pernah dong ya (yang punya akun FB tentunya, aih kayak Cak Lontong penjelasannya wkwkwkwk). Meski punya ga smua orang rajin nyetatus sih, kalo saya yang termasuk sedang-sedang aja. Ga terlalu sering tapi juga ga terlalu jarang, biasa aja.

Di saat orang-orang ada yang ga suka FB dan beralih ke twitter/path, saya tetep penggemar FB, tapi punya twitter/instagram juga sih…semua ada kelebihan dan kekurangannya, jadi saling melengkapi. Saya bukan tipe yang nyinyir FB identik dengan orang yang begina-beginu, saya lebih melihat ke manfaatnya saja.

Soal status FB, saya juga bukan tipe yang riwil protes kenapa si A sukanya nyetatus begini, kenapa B suka begitu, walo sempet memperbincangkan tapi that’s it, ga ada judgment yang gimana-gimana. Facebook facebook dia suka-suka orang yang punya akun, asal ga porno dan SARA, resiko kan tanggung si empunya akun.

Mau suka posting makanan, mau check in di suatu tempat, posting liburan, posting aktivitas, posting MLM,  saya ikhlas semuanya hahaha. Saya justru menikmati status-status temen beserta unggahan foto atau daftar check in-nya, bisa jadi masukan, bisa tanya-tanya info juga kan. Skali lagi, liat sisi manfaatnya aja. Soal posting foto-foto saya juga melakukannya sih jadi ga ada hak buat menjudge orang lain begini begitu.

Tapi, ada satu moment yang bikin saya ketawa dalam hati sekaligus gondok. Ceritanya lagi ngobrolin tentang tempat makan dengan seseorang. Saya komentar kalo masakannya keasinan dan ga cocok sama lidah saya, eh si partner bicara ini nyeletuk “lho emang kamu pernah ke situ?” aku jawab “pernah” trus dijawab lagi “kok aku ga tau, kok kamu ga pernah apdet status sama foto lagi di situ”. Mendadak pengen pingsan sodara-sodara. Hahahaha…

Eleuuhh…kok langsung gt kesimpulannya. No picture Hoax gitu kali ya menurut dia. Waduh ternyata begitu kesimpulan dia soal fenomena sosmed berkaitan dengan seseorang. Jangan-jangan smua dianggep gt. Oke deh memang dia termasuk orang yang “rajin” apdet lagi hangout dimana beserta foto-fotonya, ga masalah,  itu hak dia. Tapi ya jangan trus berkesimpulan seperti di atas dong. Waduh saya malah kepikiran gini “jangan-jangan dia menganggap cuma dia yang bisa hengot kemana-mana dikalangan teman-temannya, karena dia ga pernah lihat teman-temannya update status atau posting foto di tempat makan. Fiuuhh…

Jangan-jangan yang ga pernah pasang profpic/posting foto tiket pesawat dianggep ga pernah naik pesawat, ga pernah pasang foto tiket bioskop dianggap ga pernah nonton, ga pernah check in di warteg dianggap ga pernah makan di warteg (eh ini enggak ding, mana mau check in di warteg, ga keren haha) wah kasian banget dong, primitif banget dong brati tu orang hihihi.


Ya udah gitu aja curhatnya…kalo saya ke sini ke sana pernah ke mari ke sana ga harus (selalu) dishare kan? Kalo mau ngeshare ya silakan aja, itu hak semua orang, ya tapi kesimpulannya jangan kaya di atas gitu juga keleeeussss….#salam lemper! (lagi ngepens sama CakLontong) :p




picture from here

Sunday, April 6, 2014

Anak Laki-laki Kok Masak?


Gitu deh kira-kira yang biasanya diungkapkan ketika melihat anak laki-laki yang suka main masak-masakan atau suka dengan kegiatan masak.

Ini juga nih yang terjadi sama Hafizh anak saya (sekarang 4thn). Eyangnya Hafizh suka nyeletuk seperti itu kalo Hafizh pas pura-pura meragain bikin kue dengan wadah-wadah seadanya. Dia suka banget dengan memasak. Saya rasa sih terpengaruh dengan seringnya saya libatin dia dalam membuat snack atau kue-kue yang dia suka.

Saya memang suka main"prakarya" bikin-bikin kue atau snack, dari mulai cupcake, lasagna, schotel, pizza, pie, atau yang sederhana seperti roti bakar atau stik pisang fantasi seperti yang pernah saya posting di sini

Karena di rumah ga ada ART jadilah Hafizh suka ikut ngintilin ke dapur buat 'bantuin' emaknya. Dia suka banget bagian masuk-masukin bahan, aduk-aduk atau menata hiasan kue, naburin meises, keju, dll. Kalo saya larang (karena pertimbangan takut berantakan) langsung marahlah dia. Yawes daripada nanti tambah berantakan karena dia ngamuk akhirnya ya saya bolehin recokin hehe.

Dan, kebetulan saya juga suka download video-video masak baik lokal maupun dari luar dan saya tonton di TV, Hafizh ternyata juga sangat tertarik. Kadang dia sendiri yang minta: "Buk, aku mau liat video Eugenie Kitchen (channel yutub favorit saya tentang masak2an).

Ayahnya juga sih kadang-kadang ngeledekin, Hafizh cowok kok suka masak sih. Katanya saya mem'brainwash' dia hihihi. Sebenernya enggak, dia sendiri yang suka kok *pembelaan*

Lalu, apa bener anak laki ga boleh beraktivitas di dapur atau di dunia masak-memasak? Ya enggak lah, kita lihat sendiri kan chef di hotel-hotel itu kebanyakan cowok, seleb chef juga banyak yang cowok, dari yang lokal seperti Chef Juna, Arnold, Billy Kalangi, atau my fav Bara Patirajawane, atau dari luar seperti Jamie Olliver, Gordon Ramsay, Steve Dolby, dan lain sebagainya. 

Trus liat deh acara2 Masterchef baik yang lokal maupun amrik atau australia, peserta cowok masaknya juga keren-keren kan? Bahkan juaranya seringnya peserta cowok. Lalu, apa yang harus dikhawatirkan? Eemm mungkin takutnya tar si anak kebawa feminin ya, ah enggak juga. Mereka yang saya sebutkan di atas macho semua tuh hehe. Apalagi kalau lihat Masterchef Junior versi Australia atau Amerika yang bikin gemes dengan kemampuan mereka. Dan sekarang sudah ada Masterchef Junior versi Indonesia yang kayaknya seru juga. 

Jadi ga ada alasan ga bolehin anak cowok suka dunia memasak. Sebenarnya selain masalah gender mana yang pantes buat menekuni hobi/profesi masak-memasak, sebenarnya banyak manfaat yang bisa didapat balita ketika ia dilibatkan memasak. Beberapa diantaranya dijelaskan di bawah ini.

Manfaat kegiatan masak-memasak bagi anak:

1. Belajar menghitung, saat dia harus memasukkan tepung berapa sendok misalnya. Ajak anak sambil menghitung berapa sendok tepung yang dimasukkan ke dalam adonan.

2. Melatih ketekunan dan kesabaran, saat dia harus menjalani proses dari mulai menyiapkan, mengaduk, memanggang dan menanti kuenya matang. Biasanya sih kalo Hafizh sudah capek dia akan bilang capek.

3. Mengenalkan aneka macam rasa.

4. Melatih kreatifitas, misalnya waktu menghias cupcake dengan meises atau buttercream warna-warni, menaruh topping pizza favorit dia.

5. Melatih percaya diri, ketika hasil masakannya enak dia akan merasa bangga, wah aku juga bisa bikin makanan enak hehehe.


6. Mendekatkan (bonding) antara orang tua dan anak dalam kegiatan yang mengasyikkan.

7. Sukur-sukur anak jadi suka makan makanan rumahan daripada jajan *makirit*, dan masih banyak lagi manfaat lainnya.


Naah ternyata banyak kan manfaat menjadikan masak-memasak salah satu kegiatan dengan si kecil? Ga perlu harus parno dengan batasan, ini aktivitas anak perempuan atau laki-laki. Kita aja orang dewasa yang terlalu heboh parno, takut ini itu padahal anak mah menganggapnya ini kegiatan yang mengasyikkan.

So, ga apa-apa kan anak laki-laki suka masak. Siapa tau Hafizh kelak jadi setenar dan sekeren Jamie Olliver? Hihihi *ngarep*


Ini foto Hafizh waktu kecil sebelum 4 tahun, suka rusuhin emaknya di dapur, sekarang juga sih tapi aku cari-cari fotonya kok ga ada hehe...

Tuesday, April 1, 2014

Islamic Parenting (Mendidik Anak ala Ali, R.A)


Sebagai orang tua baru (anak masih berusia 4 tahun bisa dikatakan ortu baru kan ya), saya dan suami (terutama saya sih, uhuk!) rajin mencari ilmu yang berkaitan dengan pengasuhan anak. Ilmu pengasuhan anak sangatlah penting selain ilmu-ilmu lain yang berkaitan dengan anak misalnya tentang pengaturan gizi bagi mereka, pendidikan, dan lain sebagainya.

Karena kita hidup di era yang sedemikian modern, kita ngga bisa hanya dengan berkaca pada orang tua kita dahulu dalam mendidik kita, maka diperlukan adanya ilmu tambahan soal parenting atau pengasuhan anak ini. Jaman orang tua kita tentu saja berbeda dengan jaman kita sekarang, banyak hal-hal yang harus disesuaikan di sana-sini.

Oleh karena itu saya berusaha menyerap banyak ilmu-ilmu parenting dari mulai milis, grup FB, fanpage, forum-forum ibu-ibu yang bertebaran, artikel-artikel maupun buku-buku parenting, kadang dilengkapi dengan mengikuti seminar yang mendatangkan pakar parenting.

Kadang terlalu banyak informasi yang masuk membuat bingung juga sih, tapi daripada bingung ya akhirnya kita sesuaikan di sana-sini karena ga semua metode parenting cocok dijalankan di anak saya, cocok di keluarga lain belum tentu cocok di keluarga saya. Apalagi kalau menemukan metode parenting yang basisnya dari barat, perlu penyesuaian juga dengan budaya kita.

Suatu saat saya ngobrol dengan teman blogger sesame ibu-ibu muda (ehem..) tentang ilmu parenting ini itu, dan dari beliaulah saya tahu tentang cara pengasuhan ala Ali, RA. Ali merupakan salah satu sahabat nabi (Khulafaur rasyidin), sepupu, sekaligus menantu Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam (suami dari anak beliau, Fatimah Az-Zahra). 

Setelah saya baca, saya hanya berucap Subhanallah…ternyata kita sibuk baca sana-sini ternyata kita lupa bahwa dalam Islam segalanya sudah ada, termasuk cara pengasuhan atau parenting ini. Ga usah bingung-bingung karena semuanya sudah ada di Islam.

Saya mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang parenting ala Ali, RA ini dan menemukan artikel yang ada di bawah ini. Artikel ini saya copas dengan beberapa perubahan sedikit (saya ringkas dan simpulkan) dari beberapa web yang mengupas tentang parenting ini. Susah menemukan sumber asli dari website mana karena rata-rata artikel yang tertulis sama. Ada 1 blogger yang mengatakan bahwa artikel ini ia dapat dari broadcast message. Ini baru brodkes yang bermanfaat hehe.

Quote yang terkenal dari Ali bin Abi Thalib, RA adalah:
“Didiklah anakmu sesuai dengan jamannya, Karena mereka hidup bukan di jamanmu”
See? Dari quote ini saja ternyata dalam Islam juga diajarkan untuk mendidik sesuai zaman, tidak otoriter sesuai yang dianut oleh orang tua zaman dahulu, perlu penyesuaian di sana-sini.

Kemudian, apa sih prinsip dari Parenting ala Ali bin Abi Thalib RA ini?

Ada 3 pengelompokan dalam memperlakukan anak, yang disesuaikan dengan usia:


Menurut Ali bin Abi Thalib Ra. ada tiga pengelompokkan dalam cara memperlakukan anak:
1. Kelompok 7 tahun pertama (usia 0-7 tahun), perlakukan anak sebagai raja.
2. Kelompok 7 tahun kedua (usia 8-14 tahun), perlakukan anak sebagai tawanan.
3. Kelompok 7 tahun ketiga (usia 15-21 tahun), perlakukan anak sebagai sahabat.

ANAK SEBAGAI RAJA (Usia 0-7 tahun)
Melayani anak dibawah usia 7 tahun dengan sepenuh hati dan tulus adalah hal terbaik yang dapat kita lakukan. Banyak hal kecil yang setiap hari kita lakukan ternyata akan berdampak sangat baik bagi perkembangan prilakunya, misalnya :
>> Bila kita langsung menjawab dan menghampirinya saat ia memanggil kita- bahkan ketika kita sedang sibuk dengan pekerjaan kita – maka ia akan langsung menjawab dan menghampiri kita ketika kita memanggilnya.
>>Saat kita tanpa bosan mengusap punggungnya hingga ia tidur, maka kelak kita akan terharu ketika ia memijat atau membelai pngung kita saat kita kelelahan atau sakit.
>> Saat kita berusaha keras menahan emosi di saat ia melakukan kesalahan sebesar apapun, lihatlah dikemudian hari ia akan mampu menahan emosinya ketika adik/ temannya melakukan kesalahan padanya.
Maka ketika kita selalu berusaha sekuat tenaga untuk melayani dan menyenangkan hati anak yang belum berusia tujuh tahun, insya Allah ia akan tumbuh menjadi pribadi yang menyenangkan, perhatian dan bertanggung jawab. Karena jika kita mencintai dan memperlakukannya sebagai raja, maka ia juga akan mencintai dan memperlakukan kita sebagai raja dan ratunya.

Maka intinya adalah pada tahap ini anak belajar dari sikap kita kepadanya, jika kita lembut kepadanya maka ia akan tumbuh menjadi orang yang lembut. Lembut disini bukan berarti kita memanjakan tapi kita tetap tegas mengenai hal-hal yang baik dan tidak untuknya.

ANAK SEBAGAI TAWANAN (usia 8-14 tahun)
Kenapa sebagai tawanan? Karena kedudukan tawanan dalam Islam sangatlah terhormat, ia mendapatkan haknya secara proporsional namun juga dikenakan berbagai larangan serta kewajiban.
Inilah saat mengetahui hak dan kewajibannya, tentang hukum agama baik yang diwajibkan maupun yang dilarang. Hal-hal tersebut diantaranya: mengerjakan sholat 5 waktu, memakai pakaian yang bersih, rapi, dan menutup aurat, menjaga pergaulan dengan lawan jenis, membiasakan membaca AlQur’an, serta membantu pekerjaan rumah yang sesuai dengan kemampuan anak seusia ini. Pada tahap ini anak juga mulai menerapkan kedisiplinan sehari-hari dengan system reward dan punishment. Hal ini penting dilakukan di tahap ini karena anak sudah mulai mengerti arti tanggung jawab dan konsekuensi tentang suatu hal.

ANAK SEBAGAI SAHABAT (usia 15-21 tahun)
Usia 15 tahun adalah usia umum saat anak menginjak akil baligh. Sebagai orang tua kita sebaiknya memposisikan diri sebagai sahabat dan memberi contoh atau teladan yang baik seperti yang diajarkan oleh Ali bin Abi Thalib Ra.
>> Berbicara dari hati ke hati Inilah saat yang tepat untuk berbicara dari hati ke hati dengannya, menelaskan bahwa ia sudah remaja dan beranjak dewasa.
Perlu dikomunikasikan bahwa selain mengalami perubahan fisik, Ia juga akan mengalami perubahan secara mental, spiritual, sosial, budaya dan lingkungan, sehingga sangat mungkin akan ada masalah yang harus dihadapinya. Paling penting bagi kita para orang tua adalah kita harus dapat membangun kesadaran pada anak-anak kita bahwa pada usia setelah akil baliqh ini, ia sudah memiliki buku amalannya sendiri yang kelak akanditayangkan da diminta pertanggung jawabannya oleh Allah SWT.
>> Memberi ruang lebih Setelah memasuki usia akil baliqh, anak perlu memiliki ruang agar tidakmerasa terkekang, namun tetap dalam pengawasan kita.
Controlling atau pengawasan tetap harus dilakukan tanpa bersikap otoriter dan tentu saja diiringi dengan berdoa untuk kebaikan dan keselamatannya. Dengan demikian anak akan merasa penting, dihormati, dicintai, dihargai dan disayangi. Selanjutnya, Ia akan merasa percaya diri dan mempunyai kepribadian yang kuat untuk selalu cenderung pada kebaikan dan menjauhi perilaku buruk.
>> Mempercayakan tanggung jawab yang lebih berat. Waktu usia 15- 21 tahun ini penting bagi kita untuk memberinya tanggung jawab yang lebih beratdan lebih besar, dengan begini kelak anak- anak kita dapat menjadi pribadi yang cekatan, mandiri, bertanggung jawab dan dapat diandalkan.
Contoh pemberian tanggung jawab pada usia ini adalah seperti memintanya membimbing adik- adiknya, mengerjakan beberapa pekejaan yang biasa dikerjakan oleh orang dewasa, atau mengatur jadwal kegiatan dan mengelola kuangannya sendiri
>> Membekali anak dengan keahlian hidup.
Rasulullah  bersabda, “Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang dan memanah” (Riwayat sahih Ima Bukhari dan Imam Muslm) Secara harfiah, olah raga berkuda, berenang dan memanah adalah olah raga yang sangat baik untuk kebugaran tubuh. Sebagian menafsirkan bahwa berkuda dapat pula diartikan mampu mengendarai kendaraan (baik kendaraan darat, laut, udara). Berenang dapat disamakan dengan ketahanan dan kemampuan fisik yang diperlukan agar menjadi muslim yang kuat. Sedangkan memanah dapat pula diartikan sebagai melatih konsentrasi dan fokus pada tujuan.

Di era modern, sebagian pakar memperluas tafsiran hadist diatas sebagai berikut :
>Berkuda = Skill of Life, memberi keterampilan atau keahlian sebagai bekal hidup agar memiliki rasa percaa diri, jiwa kepemimpinan dan pengendalian diri yang baik.
> Berenang = Survival of Life , mendidik anak agar selalu bersmangat, tidak mudah menyerah dan tegar dalam menghadapi masalah.
> Memanah = Thinking of Life, mengajarkan anak untuk membangun kemandirian berpikir, merencanakan masa depan dan menentukan target hidupnya.

Dengan menjadikannya seperti sahabat, anak akan merasa nyaman berbagi tentang hal apapun, ia tidak akan merasa takut akan dihakimi tentang permasalahannya karena ia memiliki tempat terbaik untuk berdiskusi dalam segala hal. Tentunya kita tidak ingin anak justru salah mendapatkan pengertian tentang hal-hal tertentu bukan.


Indah sekali ternyata membaca Parenting ala Ali RA ini, ternyata hal-hal seperti parenting ini juga telah dibahas dalam Islam.