Home

Saturday, May 3, 2014

Roadshow Indonesia Mengajar di UNDIP: Setahun Mengajar, Seumur Hidup Menginspirasi.


Sabtu kemarin saya diajak adik kelas di pasca linguistic di UNDIP, si Ninuk, buat ikut di acara roadshow Indonesia Mengajar yang diadakan di GD. Pasca Sarjana UNDIP. Acara ini diselenggarakan oleh IM (Indonesia Mengajar) bekerjasama dengan BEM UNDIP. Sebetulnya sudah sering saya mendengar mengenai program ini, tapi yang saya tahu ya sekedar program inspiratif yang digagas oleh Bapak Anies Baswedan yang mengirimkan para pemudah lulusan sarjana di berbagai pelosok daerah di Indonesia. That’s it.

Makanya saya tertarik ikut, pengen tahu lebih banyak mengenai program IM ini. Tujuan utama roadshow ini sebenarnya memberikan informasi bagi para adik-adik calon Pengajar Muda (PM) yang saat ini menjadi mahasiswa agar setelah lulus nanti tertarik mengikuti rekrutmen yang diadakan oleh IM. Karena sasarannya mahasiswa, tiketnya juga murah, Cuma 15rb saja hehe.

Oiya, roadshow ini selain of course dihadiri oleh wakil dari IM, di sini ada Bp. Hikmat Hardono, executive director IM, ada juga mantan Pengajar Muda (namanya Andika) dan Mantan Rektor UNDIP Prof Eko Budiharjo. Acaranya seru dan khas anak muda banget. Ya iyalah, kan memang sasarannya para mahasiswa hehe. Dan saya di sana kayaknya paling tua deh hihihi, gpp deh..kan saya bisa nanti menyampaikan ini ke mahasiswa saya di kampus. Sayang banget nih acara kayaknya mepet dengan pemberitahuannya jadi rata-rata yang ikut mahasiswa UNDIP dan sedikit dari universitas lain, mahasiswa di kampus saya kayaknya malah ga ada

Banyak informasi yang saya dapat di acara roadshow ini, dan reaksi saya adalah: takjub dan tersentil. Hehehe. Dalam program IM ini, tenaga Pengajar Muda yang dikirim akan mengajar selama setahun di daerah yang telah ditentukan setelah sebelumnya mereka yang terpilih melalui proses rekruitmen, akan diberi berbagai pelatihan dan persiapan sebelum diterjukan. 

Program ini memang fenomenal, sebuah langkah “kecil” yang saya yakin jika berlangsung terus menerus akan mengubah wajah Indonesia di masa yang akan datang. IM ini lepas dari pemerintah dan menolak dana asing. Jadi pemasukannya dari mana? Ya dari perusahaan lokal dan para donator yang peduli dengan kelangsungan pendidikan dan kemajuan bangsa ini.  Program ini berlangsung di 17 propinsi dan mungkin akan terus bertambah nantinya. Rekrutmen tahun ini adalah angkatan yang ke-9. Jadi setiap tahunnya IM akan mengirimkan ribuan tenaga pengajar yakni para lulusan S1 yang telah diseleksi dengan ketat untuk mengajar di 17 propinsi itu yang mostly terpencil.

Di sela-sela penjelasan tersebut ditayangkan video-video dokumentasi para pengajar di sana. Seru dan bikin terharu. Salut deh para pemuda itu yang mau mengabdikan dirinya mengikuti program IM ini. Mereka mengajar dengan metode-metode menarik yang sangat disukai anak-anak. Misalnya, ada satu tayangan para murid belajar tentang geografi dunia, mereka diminta membuat semacam pameran kecil tiap kelompok memilih budaya masing-masing Negara, anak-anak sangat menikmati menjalani aktivitas ini. Karena PM yang dikirim adalah para lulusan yang sudah melewati tes yang ketat, otomatis yang bisa mengajar di tempat-tempat tersebut sudah pasti anak muda yang cerdas, penuh inovasi, dan yang penting memiliki ketulusan yang luar biasa dalam mengajar. Mereka lulusan dari berbagai universitas dengan berbagai disiplin ilmu dan nggak harus dari kependidikan.

Sesi kedua adalah sharing dari mantan PM yang bernama Andika. Si mas Andika yang lulusan teknik mesin UNDIP ini dulunya dikirim di Aceh yang mana sebelumnya program IM sempat dihentikan di daerah ini karena konflik pilkada yang mencekam. Andika bercerita dia sempat takut dan was-was, namun ia optimis, dan ia merasa setahun masa mengajar di sana adalah saat yang mengesankan. Dia jadi benar-benar tahu seperti apa kondisi bagian barat Indonesia ini. Seperti tagline IM: Setahun Mengajar, Seumur Hidup Menginspirasi.

Sesi ketiga adalah sharing dengan Prof Eko. Seperti biasa si bapak ini selalu hadir dengan cerita-cerita menggelitik serta joke-joke yang cerdas, maklum selain arsitek beliau juga budayawan yang tulisannya kerap menghiasi Koran lokal. Banyak petuah bijak dari Prof Eko bagi para mahasiswa yang nantinya tertarik mengikuti program IM ini.

Dan hal yang selama ini saya tahu mengenai IM bahwa IM hanyalah sekedar program pengiriman para pengajar ke daerah terpencil. Tapi ternyata lebih jauh adalah IM ini program sangat mulia yang selain memberikan pendidikan dasar yang lebih baik pada anak-anak di daerah terpencil, ternyata juga memberikan pengalaman bagi para PM ini untuk selanjutnya dapat mereka manfaatkan sebagai bahan pemikiran membangun negeri ini. Mereka (para pengajar muda ini) jadi tahu kondisi daerah yang sebenarnya, jadi jika suatu saat nanti mereka menjadi pengambil kebijakan negeri ini, mereka mengambil keputusan berdasar apa yang telah mereka alami, bukan hanya bermodal “daerah ini katanya begini begitu”, ga tau sebenarnya kondisi yang terjadi di daerah, ga kayak pejabat saat ini.*sigh*

Seperti yang dikatakan Bapak Anies Baswedan dalam web resmi IM: “menularkan optimisme, menebar inspirasi dan menjadi jendela kemajuan di tingkat akar rumput. Pada saat bersamaan, anak-anak muda itu belajar untuk peka dan peduli pada realitas kehidupan bangsanya”. Dan quote yang saya suka juga adalah: mendidik adalah kewajiban setiap orang terdidik.

Langkah ini adalah langkah konkret, ga banyak prosedur, ga ribet, ga terkotak-kotakkan harus melalui departemen ini itu, ga perlu nunggu pemerintah namun langsung tepat sasaran.  Semoga program ini akan terus ada dan berkelanjutan, sehingga pendidikan di daerah terpencil dan semakin banyak anak muda terinspirasi oleh program ini untuk Indonesia yang lebih baik. 


Berhenti mengeluh tidaklah cukup. Berkata-kata indah dengan penuh semangat juga tidak akan pernah cukup. Semua orang dapat turut ambil bagian dalam gerakan ini. Lakukan aksi nyata. Sekarang.




Buat readers yang tertarik untuk menjadi PM bisa langsung ke web Indonesia Mengajar ini, atau bisa juga berpartisipasi dengan cara lain, menjadi donator, memberi sumbangan buku, tenaga dll.



2 komentar:

Ila Rizky said...

semoga sebaran inspirasinya terus dilanjutkan meski tak lagi menjadi pengajar muda ya, mak.

Lidya - Mama Cal-Vin said...

asyik juga ya kalau aku nyoba jadi pengajar

There was an error in this gadget

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails

Our Beloved Hafizh