Pages

Tuesday, January 6, 2015

Cara Menghilangkan Trauma Berenang pada Anak

Seperti halnya anak kecil pada umumnya, Hafizh (5thn) suka sekali kegiatan berenang di kolam renang. Walaupun belum bisa berenang beneran alias masih main-main air saja namun kegiatan ini banyak nilai positifnya.

Suatu saat Hafizh pernah terpeleset lantai kolam renang yang licin dan kepalanya masuk ke air (istilah bahasa jawanya gelagepan kemasukan air), walaupun saat itu si ayah yang memang di dekatnya langsung mengangkatnya Hafizh spontan nangis ga berhenti dan takut melanjutkan kegiatan berenangnya.

Sedihnya sejak kejadian itu Hafizh selalu menolak kalau diajak berenang. Dia marah dan nangis kalau diajak berenang. Mungkin Hafizh sedikit mengalami trauma. Sempat khawatir juga takutnya trauma ini terbawa sampai besar. Dia takut ke kolam, takut ke pantai, dll, tentu sebagai orang tua saya ga mau hal ini terjadi.

Walaupun selalu menolak diajak nyemplung ke air, jika ada kesempatan kami tetap membujuk dia berenang dan meyakinkan dia kalau berenang itu aman asalkan berhati-hati. Perlahan-lahan Hafizh mulai mau nyemplung ke air, walau diawali dengam nyelupin kaki saja (istilah Hafizh: renang kaki hehe).

Dan sekarang Hafizh sudah mau berenang lagi, sudah ngga takut masuk ke air walaupun sekarang agak lebih bawel, meski belum seberani anak lain. Gapapa deh pelan-pelan ya nak.

Tips dari saya kalau misal si kecil trauma seperti Hafizh bisa dilihat di bawah ini:

1. Selalu bangun kata positif yang menyemangati dia bahwa berenang itu asyik, aman jika ditemani, bisa bikin badan sehat dan kata-kata penyemangat lainnya.

2. Kalau anak takut berenang bukan berarti kita berpikir bahwa "ah .emang mungkin hobinya bukan renang" dan kita ngga.pernah lagi membawanya berenang. Ingat bahwa pakar mengatakan renang itu merupakan life skill yang penting untuk dikuasai.

3. Tetap ajak anak ke kolam renang, bisa bersama.saudara sepupu atau teman seumuran. Meski awal-awal dia cuma melihat dari pinggir kolam bukan jadi masalah. Yang penting dia bisa melihat asyiknya teman-temannya berenang.

4. Tahap selanjutnya bisa mulai diajak mencelupkan kaki, main kecipak-kecipak air (kalau belum mau turun sepenuhnya ke kolam ya ga apa-apa, kita harus sabar).

5. Mungkin bisa mulai dengan menggendongnya sambil berjalan di dalam kolam. Kalau kemarin suami yang menggendong Hafizh mengelilingi kolam. Pertama takut tapi yakinkan kalau dia aman dalam gendongan.

6. Kuncinya adalah sabar menyesuaikan emosi dia, jangan dipaksa, kalau dia sudah mulai takut ya hentikan mainnya.

7. Kira-kira 5-6 kali mulai diajak berenang, Hafizh sudah mulai berani lagi. Disesuaikan saja dengan keberanian anak. Mungkin bisa kurang/lebih.

Itu tadi sharing cerita dan tips mengatasi anak.yang takut/trauma berenang. Mudah-mudahan bermanfaat :)

Reflection

Hari ini bertambah (atau berkurang?) jatah waktu hidup di dunia. Menginjak usia yang ga lagi muda, at least menurutku muda itu di bawah 30tahun hehehehe....sementara aku sudah 30++

Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk terus memperbaiki diri menjadi manusia yang lebih baik. Alhamdulillah di usia ini sudah ada pendamping hidup dan imam yang senantiasa sabar serta si kecil yang lucu. Insya Allah pengen segera nambah adik buat Hafizh. Aamiin...semoga Allah mengabulkan.

Di usia seperti ini segala hal yang berkaitan dengan keluarga dan rumah menduduki prioritas utama, maksudnya jika dibandingkan beberapa tahun lalu yang penuh rncana harus melakukan ini itu target begini begitu dan sebagainya, sekarang lebih "semeleh"...apapun yang dilakukan terutama yang berkaitan dengan kegiatan pekerjaan selalu menimbang-nimbang apakah worthed...gimana efeknya nanti sama rumah (sama hafizh dan ayahnya) ga egois nurutin keinginan sendiri, pasti semua begitu ya...

Bertambahnya umur ga serta merta bertambah dewasa (kadang-kadang), masih ngambekan sama suami, masih suka uring-uringan kalo anak lagi "kreatif" hehe...semoga makin bisa mengelola emosi dan jadi orang yang lebih sabar.

Dan yang terpenting juga adalah soal ibadah...merasa masih jauuuhhhh dari sempurna, selalu berusaha memperbaiki diri tapi tak jarang urusan duniawi tanpa sadar malah mendominasi, hiks....

Setiap tahun doanya selalu sama...semoga menjadi manusia yang lebih baik lagi yang bermanfaat bagi orang lain.

Semarang, 6 Januari 2015